Kalimat memiliki beberapa pengertian, diantaranya:
1.
Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan,
yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Dalam kalimat, sekurang-kurangnya
terdiri dari subjek dan predikat.
2. Kalimat adalah gabungan dari duah buah kata atau lebih yang menghasilkan suatu pengertian dan pola intonasi akhir.
3.
Cook, Elson dan Picket berpendapat bahwa kalimat adalah satuan bahasa
yang secara relatif dapat berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi akhir
dan terdiri dari klausa.
4.
Ramlan berpendapat bahwa kalimat adalah satuan gramatikal yang dibatasi
oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir naik atau turun.
5. Lado berpendapat bahwa kalimat adalah satuan terkecil dariekspresi lengkap.
Kalimat
dapat dibagi-bagi berdasarkan jenis dan fungsinya, retorikanya,
gramatikalnya. Contohnya seperti kalimat lengkap, kalimat tidak lengkap,
kalimat aktif, kalimat perintah, kalimat majemuk, dan lain sebagainya.
Kalimat
dalam ragam resmi, baik lisan maupun tertulis, harus memiliki subjek
(S) dan predikat (P). Kalau tidak memiliki unsir subjek dan unsur
predikat, pernyataan itu bukanlah kalimat. Dengan kata yang seperti itu
hanya dapat disebut sebagai frasa. Inilah yang membedakan kalimat dengan frasa.
Kalimat
adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan yang
mengungkapkan pikiran yang utuh. Dalam wujud lisan kalimat diucapkan
dengan suara naik turun, dan keras lembut, disela jeda, dan diakhiri
dengan intonasi akhir. Dalam wujud tulisan berhuruf latin kalimat
dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik(.), tanda
tanya (?) dan tanda seru (!).
Setiap
kalimat memiliki unsur penyusun kalimat. Gabungan dari unsur-unsur
kalimat akan membentuk kalimat yang mengandung arti. Unsur-unsur inti
kalimat antara lain SPOK :
- Subjek (S)
Adalah unsur yang melakukan suatu tindakan atau kerja dalam suatu kalimat.
- Predikat (P)
Adalah sebagai unsur kata kerja.
- Objek (O)
adalah unsur yang dikenai kerja oleh subjek.
- Keterangan (K)
Dapat berupa keterangan waktu atau tempat selama kejadian.
-Pelengkap
Adalah unsur yang melengkapi kalimat yang tak berobjek.
Contoh :
Gadis berkulit putih itu menyanyikan lagu didepan kelas dengan bagus.
S P O K Pel
Ayah membaca koran di teras belakang.
S P O K
Alat-alat Kalimat
Ada
empat pokok yang perlu mendapat perhatian dalam pembentukan kalimat.
Keempat hal tersebut dalam bahan kuliah ini disebut alat-alat kalimat.
Alat-alat tersebut yang dimaksud adalah sebagai berikut:
i) Pola urutan kata
Setiap
pemakai bahasa tidak boleh seenaknya saja menempatkan kata, melainkan
ia harus mengikuti tata urutan tertentu. Perubahan urutan kata dapat
merubah makna kalimat, bahkan dapat menghilangkan makana arti sama
sekali. Kalimat yang sekurang-kurangnya berdiri atas
dua unsur kata, harus diurut menurut pola urutan tertentu yang
dibenarkan oleh kaidah bahasa indonesia. Dalam bahasa Indonesia, kita
mengenal pola urutan diterangkan dan menerangkan (DM) dan kadang-kadang ditemukan pola susunan menerangkan diterangkan
(MD). Seperti contoh berikut. Tanda asterik atau tanda bintang (*)
didepan kalimat menandakan bahwa kalimat yang dimaksud tidak gramatikal.
1) Dia mengunjungi temannya dengan tergesa-gesa di tempat itu.
2) Di tempat itu dia mengunjungi temannya dengan tergesa-gesa.
3) Dengan tergesa-gesa, dia mengunjungi temannya di tempat itu.
4) Di tempat itu dengan tergesa-gesa dia mengunjungi temannya.
5) Dia mengunjungi di tempat itu dengan tergesa-gesa temannya.
6) Dia temannya mengunjungi di tempat itu dengan tergesa-gesa.
7) Dia di tempat itu mengunjungi dengan tergesa-gesa temannya.
8) Temannya dia dengan tergesa-gesa di tempat itu mengunjungi.
Kalimat
1), 2), 3), dan 4) masih gramatikal. Maknanya masih jelas karena
pengurutanya masih mengikuti kaidah atau pola urutan yang dibenarkan
oleh kaidah bahasa Indonesia. Predikat berupa kata kerja aktif transitif
harus selalu diikuti dengan obyek. Lain halnya dengan kalimat 5), 6),
7), dan 8) predikat aktif transitif diikuti dengan obyek dan keterangan.
Perubahan
struktur sebuah kalimat dapat dilakukahn dalam batas-batas tertentu
tanpa melanggar atau merusak satuan-satuan fungsionalnya. Satuan
fungsional (S), (P), maupun (K) harus tetap sekelompok. Perlu kita
ingat, bahwa struktur fungsional yang dibenarkan dalam bahasa Indonesia
hanyalah S/P/O/K, K/S/P/O, S/K/P/O, P/S, atau P/O/S. selain ini semua
pola lain belun dilazimkan atau tidak dibenarkan.
Perhatikan contoh berikut ini:
Dia menanam padi di sawah. (S/P/O/K).
Di sawah dia menanam padi. (K/S/P/O).
Dia di sawah menanam padi. (S/K/P/O).
Menanam dia. (P/O)
Menanam padi di sawah. (P/O/S/K)
ii) Bentuk Kata
Dalam
menyusun kalimat harus diperhatikan bentuk katayang terdapat dalam
Bahasa Indonesia. Bentuk kata dalam Bahasa Indonesia terdiri atas bentuk
dasar/ kata dasar atau kata turunan berupa kata berimbuhan, kata
majemuk, dan kata berulang. Perbedaan bentuk kata dalam kalimat dapat
mengubah makna struktural kalimat.
Perhatikan bentuk-bentuk berikut:
baca, membaca, dan dibaca dalam kalimat:
Saya membaca buku itu.
Saya baca buku itu.
Buku itu saya baca.
Buku itu dibacanya.
Berjalan dan berjalan-jalan dalam kalimat:
Ia berjalan menelusuri pantai.
Banyak orang berjalan-jalan menelusuri pantai.
Duduk dan duduk-duduk dalam kalimat:
Ia duduk seorang diri.
Duduk-duduk saja sejak tadi.
Bandingkan pula bentuk berikut:
Ali memiliki tangga itu.
Ali menaikkan tangga itu.
Ali tulis surat.(kalimat tidak baku)
Ali menulis surat.(kalimat
Jenis Kalimat Menurut Struktur Gramatikalnya
Jenis Kalimat Menurut Struktur Gramatikalnya
Menurut
strukturnya, kalimat dalam bahasa Indonesia dapat berupa kalimat
tunggal dan dapat pula berupa kalimat mejemuk. Kalimat majemuk dapat
bersifat setara (koordinatif, tidak setara (subordinatif), ataupun
campuran (koordinatif-subordinatif). Gagasan yang tunggal dinyatakan
dalam kalimat tunggal; gagasan yang bersegi-segi diungkapkan dengan
kalimat majemuk.
A. Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal terdiri atas satu subjek dan satu predikat.
Pada hakikatnya, kalau dilihat dari unsur-unsurnya, kalimat-kalimat
yang panjang-panjang dalam bahasa Indonesia dapat dikembalikan kepada
kalimat-kalimat dasar yang sederhana. Kalimat-kalimat tunggal yang
sederhana itu terdiri atas satu subjek dan satu predikat. Sehubungan
dengan itu, kalimat-kalimat yang panjang itu dapat pula ditelusuri
pola-pola pembentukannya. Pola-pola itulah yang dimaksud dengan pola
kalimat dasar.
Contoh :
|
Kalimat Tunggal
|
Susunan Pola Kalimat
|
|
Ayah merokok.
Adik minum susu.
Ibu menyimpan uang di dalam laci.
|
S-P
S-P-O
S-P-O-K
|
Kalimat tunggal dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:
1. Kalimat nominal adalah kalimat yang predikatnya berupa kata benda.
Contoh: Saya siswa kelas VI.
2. Kalimat verbal adalah kalimat yang predikatnya berupa kata kerja.
Contoh: Adik bernyanyi.
Setiap
kalimat tunggal di atas dapat diperluas dengan menambahkan kata-kata
pada unsur-unsurnya. Dengan penambahan unsur-unsur itu, unsur utama dari
kalimat masih dapat dikenali. Suatu kalimat tunggal dapat diperluas
menjadi dua puluh atau lebih. Perluasan kalimat tesebut terdiri atas:
1. Keterangan tempat, seperti di sini, dalam ruangan tertutup, lewat Bali, sekeliling kota.
2. Keterangan waktu, seperti: setiap hari, pada pukul 21.00, tahun depan, kemarin sore, minggu kedua bulan ini.
3.
Keterangan alat (dengan + kata benda), seperti: dengan linggis, dengan
undang-undang itu, dengan sendok, dengan wesel pos, dengan cek.
4. Keterangan modalitas, seperti: harus, barangkali, seyogyanya. sesungguhnya, sepatutnya.
5. Keterangan cara (dengan + kata sifat/kata kerja), seperti: dengan hati-hati, seenaknya saja, selekas mungkin.
6. Keterangan aspek, seperti akan, sedang, sudah, dan telah.
7. Keterangan tujuan, seperti: agar bahagia, untuk anaknya, supaya aman, bagi mereka.
8. Keterangan sebab, seperti: karena rajin, sebab berkuasa, lantaran panik.
9. Keterangan aposisi adalah keterangan yang sifatnya menggantikan, seperti: penerima Sepatu Emas, David Beckham.
10. Frasa yang, seperti: mahasiswa yang IP-nya 3 ke atas, pemimpin yang memperhatikan rakyat.
Contoh perluasan kalimat tunggal adalah:
1. Victoria akan bernyanyi di Las Vegas.
2. Masalahnya seribu satu yang belum terpecahkan.
3. Ika sangat rajin menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya.
B. Majemuk Majemuk Setara
Kalimat majemuk setara terjadi dari dua kalimat tunggal atau lebih. Kalimat majemuk setara dikelompokkan menjadi empat jenis, sebagai berikut.
1. Dua kalimat tunggal atau lebih dapat dihubungkan oleh kata dan atau serta jika kedua kalimat tunggal atau lebih itu sejalan, dan hasilnya disebut kalimat majemuk setara penjumlahan.
Contoh:
Kami membaca
Mereka menulis
Kami membaca dan mereka menulis.
Tanda koma dapat digunakan jika kalimat yang digabungkan itu lebih dari dua kalimat tunggal.
Contoh:
Direktur tenang
Karyawan duduk teratur.
Para nasabah antre.
Direktur tenang, karyawan duduk teratur, dan para nasabah antre.
2. Kedua kalimat tunggal yang berbentuk kalimat setara itu dapat dihubungkan oleh kata tetapi jika kalimat itu menunjukkan pertentangan, dan hasilnya disebut kalimat majemuk setara pertentangan.
Contoh:
Amerika dan Jepang tergolong negara maju.
Indonesia dan Brunei Darussalam tergolong negara berkembang.
Amerika dan Jepang tergolong negara maju, tetapi Indonesia dan Brunei Darussalam tergolong negara berkembang.
Kata-kata
penghubung lain yang dapat digunakan dalam menghubungkan dua kalimat
tunggal dalam kalimat majemuk setara pertentangan ialah kata sedangkan dan melainkan seperti kalimat berikut.
Puspiptek terletak di Serpong, sedangkan Industro Pesawat Terbang Nusantara terletak di Bandung.
Ia bukan peneliti, melainkan pedagang.
3. Dua kalimat tunggal atau lebih dapat dihubungkan oleh kata lalu dan kemudian jika kejadian yang dikemukakannya berurutan.
Contoh:
Mula-mula disebutkan nama-nama juara MTQ tingkat remaja, kemudian disebutkan nama-nama juara MTQ tingkat dewasa.
Upacara serah terima pengurus koperasi sudah selesai, lalu Pak Ustaz membacakan doa selamat.
4. Dapat pula dua kalimat tunggal atau lebih dihubungkan oleh kata atau jika kalimat itu menunjukkan pemilihan, dan hasilnya disebut kalimat majemuk setara pemilihan.
Contoh:
Para pemilik televisi membayar iuran televisinya di kantor pos yang terdekat, atau para petugas menagihnya ke rumah pemilik televisi langsung.
C. Kalimat Majemuk tidak Setara (bertingkat)
Kalimat majemuk tidak setara terdiri atas satu suku kalimat yang bebas dan satu suku kalimat atau lebih yang tidak bebas. Jalinan kalimat ini menggambarkan taraf kepentingan yang berbeda-beda di antara unsur gagasan yang majemuk. Inti gagasan dituangkan ke dalam induk kalimat,
sedangkan pertaliannya dari sudut pandangan waktu, sebab, akibat,
tujuan, syarat, dan sebagainya dengan aspek gagasan yang lain
diungkapkan dalam anak kalimat.
Ada beberapa penanda hubungan / konjungsi yang dipergunakan oleh kalimat majemuk bertingkat, yaitu:
1. Waktu : ketika, sejak
2. Sebab: karena, oleh karenaitu, sebab, oleh sebab itu
3. Akibat: hingga, sehingga, maka
4. Syarat: jika, asalkan, apabila
5. Perlawanan: meskipun, walaupun
6. Pengandaian: andaikata, seandainya
7. Tujuan: agar, supaya, untukbiar
8. Perbandingan: seperti, laksana, ibarat, seolah‐olah
9. Pembatasan: kecuali, selain
10. Alat: dengan + kata benda: dengan tongkat
11. Kesertaan: dengan + orang
Contoh:
- Walaupun komputer itu dilengkapi dengan alat-alat modern, para hacker masih dapat mengacaukan data-data komputer itu.
Induk kalimat: Para hacker masih dapat mengacaukan data-data komputer itu.
Anak kalimat: Walaupun komputer itu dilengkapi dengan alat-alat modern.
Contoh:
1. a. Komputer itu dilengkapi dengan alat-alat modern. (tunggal)
b. Mereka masih dapat mengacaukan data-data komputer. (tunggal)
c.Walaupun komputer itu dilengkapi dengan alat-alat modern, mereka masih dapat mengacaukan data-data komputer itu.
2. a. Para pemain sudah lelah
b. Para pemain boleh beristirahat.
c. Karena para pemain sudah lelah, para pemain boleh beristirahat.
d. Karena sudah lelah, para pemain boleh beristirahat.
Sudah dikatakan di atas bahwa kalimat majemuk tak setara terbagi dalam bentuk anak kalimat dan induk kalimat. Induk kalimat ialah inti gagasan, sedangkan anak kalimat ialah pertalian gagasan dengan hal-hal lain.
Mari kita perhatikan kalimat di bawah ini.
Apabila engkau ingin melihat bak mandi panas, saya akan membawamu ke hotel-hotel besar.
Anak kalimat:
Apabila engkau ingin melihat bak mandi panas.
Induk kalimat:
Saya akan membawamu ke hotel-hotel besar.
Penanda anak kalimat ialah kata walaupun,
meskipun, sungguhpun, karena, apabila, jika, kalau, sebab, agar,
supaya, ketika, sehingga, setelah, sesudah, sebelum, kendatipun, bahwa, dan sebagainya.
D. Kalimat Majemuk Campuran
Kalimat jenis ini terdiri atas kalimat majemuk tak setara (bertingkat) dan kalimat majemuk setara, atau terdiri atas kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk tak setara (bertingkat).
Misalnya:
1. Karena hari sudah malam, kami berhenti dan langsung pulang.
2. Kami pulang, tetapi mereka masih bekerja karena tugasnya belum selesai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar