Ali Dwi Leksono "201343500431"
Dalam dunia pembelajaran, guru menjadi pusat pembelajaran selama ini.
Mereka dianggap mengetahui segala hal oleh siswa. Sehingga siswa menjadi
malas untuk mencari informasi yang mereka butuhkan. Namun, hal tersebut
tidak lantas menjadi suatu kendala dalam mewujudkan pendidikan yang
lebih baik lagi.
Karena bila orang tua mampu bekerja sama
dengan guru untuk mendidik anaknya untuk lebih aktif dalam mencari
informasi.maka yang kegiatan belajar akan menjadi lebih kondusif.karena
sumber informasi tidak sekedar kita dapat dari seorang guru tetapi di
sekitar kita pun banyak informasi yang dapat kita ambil sebagai bahan
pembelajaran.
Oleh karena itu siswa seharusnya mulai di
ajarkan untuk mencari sumber informasi sebanyak-banyaknya dan diharapkan
siswa tidak malas dalam mencari dan mengambil informasi yang di
butuhkan dalam proses belajar mengajar.
Hal ini akan
menjadikan peran guru sebagai pembimbing akan sesuai dengan
seharusnya.karena siswa yang telah aktif dalam mencari informasi tidak
akan takut untuk bertanya kepada guru.karana selama ini siswa takut
untuk bertanya.sehiangga penyampaian infomasi menjadi terputus damn
tidak sampai sepenuhnya kepada para siswa.dengan adanya kerja sama ini
diharapkan semua informasi yang penting atau yang dapat merubah perilaku
siswa menjadi lebih baik.
Senin, 02 Desember 2013
PBHERWANDI 200943501321
Dalam dunia pendidikan, guru menjadi pusat pembelajaran selama ini mereka
dianggap mengetahui segala hal oleh siswa. Sehingga siswa menjadi malas untuk
mencari informasi yang mereka butuhkan. Namun, hal tersebut tidak lantas
menjadi suatu kendala dalam mewujudkan pendidikan yang lebih baik.
Pendidikan yang baik harus ada kesimbangan antara peran guru sebagai
pengajar dan peran siswa sebagai yang di ajar. Disini guru lebih berperan
mengarahkan garis besar materi pendidikan, sementara siswa lebih berperan aktif
dalam menggali pelajaran yang telah diberikan guru.
Selain memberikan materi, peran guru juga sebagai pembimbing moral dan
akhlak siswa agar dapat berperilaku baik dan positif. Disinilah perlu adanya
teladan dari seorang guru dalam berperilaku dan bersikap positif yang sesuai
dengan apa yang diajarkan. Sehingga siswa dapat meniru baik perilaku dan
tindakan yang diajarkan guru.
Minggu, 01 Desember 2013
Didit Yudhomulyo
201343500479
201343500479
Dalam dunia pembelajaran, guru menjadi pusat pembelajaran selama ini. Mereka dianggap mengetahui segala hal oleh siswa. Sehingga siswa menjadi malas untuk mencari informasi yang mereka butuhkan. Namun, hal tersebut tidak lantas menjadi suatu kendala dalam mewujudkan pendidikan yang lebih baik lagi.
Walaupun tugas guru itu mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi siswa. Tidak semestinya, para siswa selalu mengandalkan seorang guru. Disinilah peran orang tua dibutuhkan oleh para siswa agat memperhatikan anak-anaknya selayaknya seorang guru. Walaupun tak sepenuhnya harus menjadi seorang guru. Orang tua hanya memperhatikan dan memotivasi anak, agar si anak bisa lebih baik lagi. Sehingga tidak bermalas-malasan lagi untuk mencari informasi yang mereka butuhkan.
Jadi, hal yang dapat mewujudkan pendidikan anak yang lebih baik. Selain peran guru disekolah. Orang tua dirumah pun bisa menjadikan dirinya sebagai seorang guru.
Muhammad Ahsin Fahmi "201343500508"
Dalam dunia pendidikan, guru menjadi pusat pembelajaran selama ini
mereka dianggap mengetahui segala hal oleh siswa. Sehingga siswa menjadi
malas untuk mencari informasi yang mereka butuhkan. Namun, hal tersebut
tidak lantas menjadi suatu kendala dalam mewujudkan pendidikan yang
lebih baik.
Pendidikan yang baik tidak harus bertumpu pada guru yang mengajar, Para siswa dapat mencari sendiri ilmu yang mereka butuhkan. Tentu saja, dengan arahan dan pengawasan guru. Di era teknologi yang berkembang pesat ini, informasi sangat mudah untuk di dapatkan. Sehingga informasi dapat dengan mudah di cari oleh siswa.
Namun, berkembangnya teknologi informasi yang semakin canggih, terdapat sisi negative dan sisi positive. Guru di harapkan dapat membimbing moral siswa agar tidak terjerumus efek negative dari perkembangan teknologi. sehingga, siswa dapat menilai mana yang baik dana mana yang tidak baik.
Nama : Andi Triyanto NPM : 201343500421
Dalam dunia pendidikan, guru menjadi pusat pembelajaran selama ini mereka dianggap mengetahui segala hal oleh siswa. Sehingga siswa menjadi malas untuk mencari informasi yang mereka butuhkan. Namun, hal tersebut tidak lantas menjadi suatu kendala dalam mewujudkan pendidikan yang lebih baik.
Untuk mewujudkan pendidikan yang lebih baik, maka seorang guru harus berperan aktif didalam dunia pendidikan tidak sekedar mengajarkan ilmu pengetahuan tetapi harus juga mengajarkan tentang tata cara berperilaku sopan santun terhadap orang lain. Setidaknya guru juga harus bisa mendidik siswanya untuk lebih mandiri, disiplin, tekun, bertanggung jawab dalam berbagai hal. Sehingga siswa bisa menerapkan ilmu itu untuk masa depannya kelak setelah siswa itu lulus sekolah dan menjadin guru itu tidak hanya berpangku tangan serta menikmati gaji dari tempatnya mengajar.
Oleh karena itu guru harus bisa menjadi acuan siswa untuk patuh dan taat agar siswa itu tidak bandel dan menjadi pembangkang. Maka dari itu menjadi seorang guru adalah subuah tugas mulia untuk mengentaskan seseorang dari kebodohan dan mengajarkan seseorang itu dengan ilmu yang telah ia pelajari sewaktu sekolah dulu. Sehingga seseorang itu akan menjadi siswa yang pintar dan menjadi kebanggaan bangsa Indonesia, maka ada istilah " Guru adalah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.
Oleh karena itu guru harus bisa menjadi acuan siswa untuk patuh dan taat agar siswa itu tidak bandel dan menjadi pembangkang. Maka dari itu menjadi seorang guru adalah subuah tugas mulia untuk mengentaskan seseorang dari kebodohan dan mengajarkan seseorang itu dengan ilmu yang telah ia pelajari sewaktu sekolah dulu. Sehingga seseorang itu akan menjadi siswa yang pintar dan menjadi kebanggaan bangsa Indonesia, maka ada istilah " Guru adalah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.
Kedudukan Kata Dalam Bahasa Indonesia
Kalimat
Dari
Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Artikel
ini tidak memiliki referensi sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa diverifikasi.
Bantulah memperbaiki artikel ini dengan menambahkan referensi yang layak. Artikel yang tidak dapat diverifikasikan dapat dihapus sewaktu-waktu oleh Pengurus. |
Kalimat adalah satuan bahasa berupa kata atau rangkaian kata yang dapat berdiri sendiri dan menyatakan makna yang lengkap. Kalimat adalah satuan bahasa terkecil yang mengungkapkan pikiran yang utuh, baik dengan cara lisan maupun tulisan. Dalam wujud lisan, kalimat diucapkan dengan suara naik turun, dan keras lembut, disela jeda, dan diakhiri dengan intonasi akhir. Sedangkan dalam wujud tulisan berhuruf latin, kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik (.), tanda tanya (?) dan tanda seru (!). Sekurang-kurangnya kalimat dalam ragam resmi, baik lisan maupun tertulis, harus memiliki sebuah subjek (S) dan sebuah predikat (P). Kalau tidak memiliki kedua unsur tersebut, pernyataan itu bukanlah kalimat melainkan hanya sebuah frasa. Itulah yang membedakan frasa dengan kalimat. Di sini, kalimat dibagi menjadi dua, yaitu:
Daftar isi
- 1 Kalimat tunggal
- 2 Kalimat majemuk
- 2.1 Kalimat majemuk setara
- 2.2 Kalimat majemuk rapatan
- 2.3 Kalimat majemuk bertingkat
- 2.4 Kalimat majemuk campuran
- 3 Pola Kalimat
- 3.1 Kalimat Dasar Berpola S P
- 3.2 Kalimat Dasar Berpola S P O
- 3.3 Kalimat Dasar Berpola S P Pel.
- 3.4 Kalimat Dasar Berpola S P O Pel.
- 3.5 Kalimat Dasar Berpola S P K
- 3.6 Kalimat Dasar Berpola S P O K
- 3.7 Kalimat Dasar Berpola S P Pel. K
- 3.8 Kalimat Dasar Berpola S P O Pel. K
- 4 Pranala luar
Kalimat tunggal
Kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya mempunyai satu
pola kalimat, yaitu hanya memiliki satu subjek dan satu predikat, serta satu
keterangan (jika perlu)
Kalimat majemuk
Kalimat majemuk adalah kalimat yang mempunyai dua pola
kalimat atau lebih. Kalimat majemuk ini terdiri dari induk kalimat dan anak
kalimat. Cara membedakan anak kalimat dan induk kalimat yaitu dengan melihat
letak konjungsi. Induk kalimat tidak memuat konjungsi di dalamnya, konjungsi
hanya terdapat pada anak kalimat.
Setiap kalimat majemuk mempunyai kata penghubung yang
berbeda, sehingga jenis kalimat tersebut dapat diketahui dengan cara melihat
kata penghubung yang digunakannya. Jenis-jenis kalimat majemuk adalah:
- Kalimat
Majemuk Setara
- Kalimat
Majemuk Rapatan
- Kalimat
Majemuk Bertingkat
- Kalimat
Majemuk Campuran
Kalimat majemuk setara
Kalimat majemuk setara yaitu penggabungan dua kalimat
atau lebih kalimat tunggal yang kedudukannya sejajar atau sederajat.
Berdasarkan kata penghubungnya (konjungsi), kalimat
majemuk setara terdiri dari lima macam, yakni:
Jenis
|
Konjungsi
|
penggabungan
|
dan
|
penguatan/Penegasan
|
bahkan
|
pemilihan
|
atau
|
berlawanan
|
di
lanjutkan pada sebuah kalimat majemuk yang kedua (sedangkan)
|
urutan
waktu
|
kemudian,
lalu, lantas
|
Contoh:
- Juminten
pergi ke pasar. (kalimat tunggal 1)
- Norif
berangkat ke bengkel. (kalimat tunggal 2)
- Juminten
pergi ke pasar sedangkan Norif berangkat ke bengkel. (kalimat majemuk)
- Norif berangkat
ke bengkel sedangkan Juminten pergi ke pasar. (kalimat majemuk)
Kalimat majemuk rapatan
Kalimat majemuk rapatan yaitu gabungan beberapa kalimat
tunggal yang karena subjek, predikat atau objeknya sama,maka bagian yang sama
hanya disebutkan sekali.
Contoh:
- Pekerjaannya
hanya makan. (kalimat tunggal 1)
- Pekerjaannya
hanya tidur. (kalimat tunggal 2)
- Pekerjaannya
hanya merokok. (kalimat tunggal 3)
- Pekerjaannya
hanya makan, tidur, dan merokok. (kalimat majemuk rapatan)
Kalimat majemuk bertingkat
Kalimat majemuk bertingkat yaitu penggabungan dua kalimat
atau lebih kalimat tunggal yang kedudukannya berbeda. Di dalam kalimat majemuk
bertingkat terdapat unsur induk kalimat dan anak kalimat. Anak kalimat timbul
akibat perluasan pola yang terdapat pada induk kalimat.
Berdasarkan kata penghubungnya (konjungsi), kalimat
majemuk bertingkat terdiri dari sepuluh macam, yakni:
Jenis
|
Konjungsi
|
syarat
|
jika,
kalau, manakala, andaikata, asal(kan)
|
tujuan
|
agar,
supaya, biar
|
perlawanan
(konsesif)
|
walaupun,
kendati(pun), biarpun
|
penyebaban
|
sebab,
karena, oleh karena
|
pengakibatan
|
maka,
sehingga
|
cara
|
dengan,
tanpa
|
alat
|
dengan,
tanpa
|
perbandingan
|
seperti,
bagaikan, alih-alih
|
penjelasan
|
bahwa
|
kenyataan
|
padahal
|
Contoh:
- Kemarin
ayah mencuci motor. (induk kalimat)
- Ketika matahari
berada di ufuk timur. (anak kalimat sebagai pengganti keterangan waktu)
- Ketika
matahari berada di ufuk timur, ayah mencuci motor. (kalimat majemuk
bertingkat cara 1)
- Ayah
mencuci motor ketika matahari berada di ufuk timur. (kalimat majemuk
bertingkat cara 2)
Kalimat majemuk campuran
Kalimat majemuk campuran yaitu gabungan antara kalimat
majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat. Sekurang-kurangnya terdiri dari
tiga kalimat.
Contoh:
- Toni
bermain dengan Kevin. (kalimat tunggal 1)
- Rina
membaca buku di kamar kemarin. (kalimat tunggal 2, induk kalimat)
- Ketika aku
datang ke rumahnya. (anak kalimat sebagai pengganti keterangan waktu)
- Toni
bermain dengan Kevin, dan Rina membaca buku di kamar, ketika aku datang ke
rumahnya. (kalimat majemuk campuran)
Pola Kalimat
Kalimat yang kita gunakan sesungguhnya dapat dikembalikan
ke dalam sejumlah kalimat dasar yang sangat terbatas. Dengan perkataan lain,
semua kalimat yang kita gunakan berasal dari beberapa pola kalimat dasar saja.
Sesuai dengan kebutuhan kita masing-masing, kalimat dasar tersebut kita
kembangkan, yang pengembangannya itu tentu saja harus didasarkan pada kaidah
yang berlaku.
Berdasarkan keterangan sebelumnya, dapat ditarik
kesimpulan bahwa kalimat dasar ialah kalimat yang berisi informasi pokok dalam
struktrur inti, belum mengalami perubahan. Perubahan itu dapat berupa
penambahan unsur seperti penambahan keterangan kalimat ataupun keterangan
subjek, predikat, objek, ataupun pelengkap. Kalimat dasar dapat dibedakan ke
dalam delapan tipe sebagai berikut.
Kalimat Dasar Berpola S P
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek dan
predikat. Predikat kalimat untuk tipe ini dapat berupa kata kerja, kata benda,
kata sifat, atau kata bilangan. Misalnya:
- Mereka /
sedang berenang. = S / P (Kata Kerja)
- Ayahnya /
guru SMA. = S / P (Kata Benda)
- Gambar itu
/ bagus.= S / P (Kata Sifat)
- Peserta
penataran ini / empat puluh orang. = S / P (Kata Bilangan)
Kalimat Dasar Berpola S P O
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat,
dan objek. subjek berupa nomina atau frasa nominal, predikat berupa verba
transitif, dan objek berupa nomina atau frasa nominal. Misalnya:
- Mereka /
sedang menyusun / karangan ilmiah. = S / P / O
Kalimat Dasar Berpola S P Pel.
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat,
dan pelengkap. Subjek berupa nomina atau frasa nominal, predikat berupa verba
intransitif atau kata sifat, dan pelengkap berupa nomina atau adjektiva.
Misalnya:
- Anaknya /
beternak / ayam. = S / P / Pel.
Kalimat Dasar Berpola S P O Pel.
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat,
objek, dan pelengkap. subjek berupa nomina atau frasa nominal, predikat berupa
verba intransitif, objek berupa nomina atau frasa nominal, dan pelengkap berupa
nomina atau frasa nominal. Misalnya:
- Dia /
mengirimi / saya / surat. = S / P / O / Pel.
Kalimat Dasar Berpola S P K
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat,
dan harus memiliki unsur keterangan karena diperlukan oleh predikat. Subjek
berupa nomina atau frasa nominal, predikat berupa verba intransitif, dan
keterangan berupa frasa berpreposisi. Misalnya:
- Mereka /
berasal / dari Surabaya. = S / P / K
Kalimat Dasar Berpola S P O K
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat,
objek, dan keterangan. subjek berupa nomina atau frasa nomina, predikat berupa
verba intransitif, objek berupa nomina atau frasa nominal, dan keterangan
berupa frasa berpreposisi. Misalnya:
- Kami /
memasukkan / pakaian / ke dalam lemari. = S / P / O / K
Kalimat Dasar Berpola S P Pel. K
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat,
pelengkap, dan keterangan. Subjek berupa nomina atau frasa nominal, predikat
berupa verba intransitif atau kata sifat, pelengkap berupa nomina atau
adjektiva, dan keterangan berupa frasa berpreposisi. Misalnya :
- Ungu /
bermain / musik / di atas panggung. = S / P / Pel. / K
Kalimat Dasar Berpola S P O Pel. K
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat,
objek, pelengkap, dan keterangan. subjek berupa nomina atau frasa nominal,
predikat berupa verba intransitif, objek berupa nomina atau frasa nominal,
pelengkap berupa nomina atau frasa nominal, dan keterangan berupa frasa
berpreposisi. Misalnya:
- Dia /
mengirimi / ibunya / uang / setiap bulan. = S / P / O / Pel. / K
http://id.wikipedia.org/wiki/Kalimat
HERLINA WIDYASTUTY. NPM 201343500509
. Dalam dunia pendidikan,guru menjadi pusat pembelajaran selama ini.Mereka dianggap mengetahui segala hal oleh siswa,sehingga siswa menjadi malas mencari informasi yang mereka butuhkan.Namun,hal tersebut tidak lantas menjadi suatu kendala dalam mewujudkan pendidikan yang lebih baik.
Walaupun demikian,seharusnya siswa tidak boleh bermalas - malasan dalam dunia pendidikan tersebut ,mereka sebagai siswa,justru harus lebih giat lagi untuk mencari informasi yang mereka butuhkan,agar meningkatkan kecerdasan bagi siswa itu sendiri. Dalam hal ini,bukan hanya siswa saja yang harus meningkatkan kecerdasan dalam dunia pendidikan,gurupun diwajibkan untuk mencari informasi yang lebih tinggi lagi di dalam dunia pendidikan,karena guru pun harus lebih cerdas dibandingkan siswanya sendiri.Hal tersebut agar guru bisa lebih mendidik dan mengajarkan siswanya lebih baik lagi,agar tidak ad kesan "Siswa lebih pintar dari Guru",maka dari itu,untuk mewujudkan pendidikan yang lebih baik,tidak ad salah nya guru maupun siswa saling mencari informasi yang sesuai dengan kebutuhan masing - masing.
Walaupun demikian,seharusnya siswa tidak boleh bermalas - malasan dalam dunia pendidikan tersebut ,mereka sebagai siswa,justru harus lebih giat lagi untuk mencari informasi yang mereka butuhkan,agar meningkatkan kecerdasan bagi siswa itu sendiri. Dalam hal ini,bukan hanya siswa saja yang harus meningkatkan kecerdasan dalam dunia pendidikan,gurupun diwajibkan untuk mencari informasi yang lebih tinggi lagi di dalam dunia pendidikan,karena guru pun harus lebih cerdas dibandingkan siswanya sendiri.Hal tersebut agar guru bisa lebih mendidik dan mengajarkan siswanya lebih baik lagi,agar tidak ad kesan "Siswa lebih pintar dari Guru",maka dari itu,untuk mewujudkan pendidikan yang lebih baik,tidak ad salah nya guru maupun siswa saling mencari informasi yang sesuai dengan kebutuhan masing - masing.
ahmad kosasi 201343500490
Dalam dunia pendidikan, guru menjadi pusat pembelajaran selama ini. Mereka dianggap mengetahui segala hal oleh siswa. Sehingga siswa menjadi malas untuk mencari informasi yang mereka butuhkan. Namun, hal tersebut tidak lantas menjadi satu kendala dalam mewujudkan pendidikan yang lebih baik.
Untuk mewujudkan pendidikan yang lebih baik, guru harus berperan aktif. Setidaknya mereka harus membuat sesuatu hal yang menarik yang dapat membuat para siswa belajar mandiri. Namun, hal tersebut tidak lantas membuat para guru berpangku tangan.
Karena sosok guru adalah acuan setiap siswa menjadi kreatif atau menjadi pembangkang. Mereka selalu memperhatikan seperti apa sosok guru yang mengajar. Apakah mereka seperti hitler yang kejam atau seperti orang tua yang sayang akan buah hatinya. Maka dari itu untuk mewujudkan pendidikan yg lebih baik guru harus sangat berperan aktif merangkul setiap siswanya.
Untuk mewujudkan pendidikan yang lebih baik, guru harus berperan aktif. Setidaknya mereka harus membuat sesuatu hal yang menarik yang dapat membuat para siswa belajar mandiri. Namun, hal tersebut tidak lantas membuat para guru berpangku tangan.
Karena sosok guru adalah acuan setiap siswa menjadi kreatif atau menjadi pembangkang. Mereka selalu memperhatikan seperti apa sosok guru yang mengajar. Apakah mereka seperti hitler yang kejam atau seperti orang tua yang sayang akan buah hatinya. Maka dari itu untuk mewujudkan pendidikan yg lebih baik guru harus sangat berperan aktif merangkul setiap siswanya.
subur 201343500469
Dalam dunia pembelajaran, guru
menjadi pusat pembelajaran selama ini. Mereka dianggap mengetahui segala hal
oleh siswa. Sehingga siswa menjadi malas untuk mencari informasi yang mereka
butuhkan. Namun, hal tersebut tidak lantas menjadi suatu kendala dalam
mewujudkan pendidikan yang lebih baik.
Sebagai seorang guru, mereka mempunyai metode belajar yang efektif untuk mengajar para siswa. Para siswa mengharapkan belajar yang menyenangkan. Dalam hal itu mereka akan lebih mengerti tentang penyampaian pelajaran yang di sampaikan.
Untuk menjadi siswa yang berprestasi, mereka diharapkan agar belajar bukan hanya pada saat di sekolah saja. melainkan para siswa perlu juga beljar di luar seperti keja kelompok,les, dan mengerjakan tugas.
tugas paragraf bahasa
Dalam dunia pembelajaran, guru
menjadi pusat pembelajaran selama ini. Mereka dianggap mengetahui segala hal
oleh siswa. Sehingga siswa menjadi malas untuk mencari informasi yang mereka
butuhkan. Namun, hal tersebut tidak lantas menjadi suatu kendala dalam
mewujudkan pendidikan yang lebih baik.
Dalam mewujudkan pendidikan yang lebih baik, peran orang tua pun sangat dibutuhkan. Mereka bisa lakukan dengan memperhatikan cara belajar anak dirumah. Sehingga anak akan lebih terkontrol dalam belajar. Namun, bisa juga dengan menambahkan waktu belajar di luar jam sekolah seperti les privat.
Adapun peran lainya dari seorang guru dan orang tua dalam proses belajar mengajar. Contohnya, mereka harus peka terhadap cara belajar dan penalaran anak itu dalam proses belajar mengajar. Karena cara belajar dan penalaran anak dalam proses belajar mengajar itu berbeda-beda. Oleh karena itu, banyak hal-hal kecil yang perlu lebih diperhatikan dalam membangun dunia pembelajaran maupun mewujudkan dunia pendidikan yang lebih baik.
Dalam mewujudkan pendidikan yang lebih baik, peran orang tua pun sangat dibutuhkan. Mereka bisa lakukan dengan memperhatikan cara belajar anak dirumah. Sehingga anak akan lebih terkontrol dalam belajar. Namun, bisa juga dengan menambahkan waktu belajar di luar jam sekolah seperti les privat.
Adapun peran lainya dari seorang guru dan orang tua dalam proses belajar mengajar. Contohnya, mereka harus peka terhadap cara belajar dan penalaran anak itu dalam proses belajar mengajar. Karena cara belajar dan penalaran anak dalam proses belajar mengajar itu berbeda-beda. Oleh karena itu, banyak hal-hal kecil yang perlu lebih diperhatikan dalam membangun dunia pembelajaran maupun mewujudkan dunia pendidikan yang lebih baik.
Nama: abudul rahman
kelas: s1e
npm:201343500440
kelas: s1e
npm:201343500440
Sabtu, 30 November 2013
Tugas Uton Sultoni 201343500516
Dalam mewujudkan pendidikan yang
lebih baik, peran seorang guru sangat penting. Mereka ibarat cahaya yang
menerangi kegelapan. Mereka memberitahu apa yang siswa tidak tahu. Mereka juga
yang mendidik dan mengajari siswa tentang bagaimana bertatakrama. Namun,
perjuangan guru akan sia-sia jika tidak didukung oleh tekad untuk lebih baik
dari para siswa.
Para siswa sendiri tidak akan
mempunyai tekad yang tinggi tanpa adanya dorongan dari orang tua dan lingkungan
sekitar. Orang tua dan lingkunagan sekitar mampu memotivasi siswa untuk menjadi
lebih baik. Oleh karena itu, tidak hanya guru yang berperan untuk mewujudkan
pendidikan yang lebih baik. Guru, siswa, orang tua dan lingkungan sekitar. Mereka
semua sangat berperan penting dalam mewujudkan pendidikan yang lebih baik.
Minggu, 24 November 2013
ANGGOTA KELOMPOK 2
Assalamualaikum Wr. Wb.
kami dari kelompok 2 s1e informatika unindra bersama-sam menyusun blog ini yaitu yang bertemakan mata kuliah bahasa INDONESIA yang bertujuan untuk memenuhi tugas dosen kami yaitu Bapak Randy Ramliana
anggota kelompok 2 yaitu :
1. Didit Yudho Mulyo 201343500479
2. Abdul Rahman 201343500421
3. Subur 201343500469
4. Andi Triyanto 201343500421
5. M. Ahsin Fahmi 201343500508
6. A. Kosasi 201343500490
7. Uton Sultoni 201343500516
8. P.B. Herwandi 200943501321
9. Ali Dwi Leksono 201343500431
10. Herlina Widyastuty 201343500509
11. Aprilia Fitri vindiani 201343500440
semoga bermanfaat bagi pembacanya aminn.....
kami dari kelompok 2 s1e informatika unindra bersama-sam menyusun blog ini yaitu yang bertemakan mata kuliah bahasa INDONESIA yang bertujuan untuk memenuhi tugas dosen kami yaitu Bapak Randy Ramliana
anggota kelompok 2 yaitu :
1. Didit Yudho Mulyo 201343500479
2. Abdul Rahman 201343500421
3. Subur 201343500469
4. Andi Triyanto 201343500421
5. M. Ahsin Fahmi 201343500508
6. A. Kosasi 201343500490
7. Uton Sultoni 201343500516
8. P.B. Herwandi 200943501321
9. Ali Dwi Leksono 201343500431
10. Herlina Widyastuty 201343500509
11. Aprilia Fitri vindiani 201343500440
semoga bermanfaat bagi pembacanya aminn.....
CARA MEMBUAT MAKALAH YANG BAIK DAN BENAR
Makalah adalah sebuah karya akademis yang umumnya diterbitkan dalam
suatu jurnal ilmiah dan membahas suatu pokok permasalahan tertentu.
Membuat sebuah makalah merupakan sebuah tugas yang dirasa sangat
menyusahkan terutama bagi mahasiswa/i perguruan tinggi.
Mengapa demikian ? Karena penyusunan sebuah makalah yang baik dan benar seharusnya memang harus diteliti dilapangan secara langsung. Kesulitannya bukan hanya sampai disini, ketika hendak menyusunkan kedalam sebuah kertas kita juga harus memperhatikan kertas apa yang harus kita gunakan, ukuran font dan urutan / struktur penulisan makalah.
Buat kamu yang belum pernah membuat sebuah makalah sebelumnya ini memanglah menjadi hal yang pastinya membingungkan bagi anda, namun mau tidak mau anda harus belajar membuat makalah anda. Tadi kita sudah menyinggung sedikit pengertian makalah, bahwa makalah merupakan tulisan resmi tentang suatu pokok yg dimaksudkan untuk dibacakan di muka umum atau dalan suatu persidangan dan yang sering disusun untuk diterbitkan. Nah, tentunya sudah ada kaedah / aturan tertentu dalam membuat suatu maklah, dan kami akan sedikit share tentang cara membuat makalah kepada kamu.
1. Sebelum memulai membuat makalah maka anda wajib mempelajari dan menganalisa topik yang akan ditulis.
2. Menyusun pola pikir.
3. Mengumpulkan bahan-bahan materi.
4. Dalam menulis sebuah makalah kita dituntut untuk:
- Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
- Menyusun kalimat agar lebih mudah dipahami
- Singkat, padat, dan jelas dalam uraian
- Rangkaian uraian yang berkaitan
Struktur Penulisan Makalah
1. Lembar Judul atau Jilid
- Judul makalah
- Nama dan Nim
- Nama dan Tempat Perguruan Tinggi
- Tahun
2. Lembar Pengesahan
3. Kata Pengantar
4. Daftar Isi
5. Daftar Gambar
6. Daftar Tabel
7. Tubuh Makalah
a. Pendahuluan : Terbagi menjadi 3 Sub Bab
1. Latar belakang
2. Ruang lingkup
3. Maksud dan tujuan penulisan
b. Pembahasan
c. Penutup
- Kesimpulan
- Saran
d. Daftar Pustaka
e. Lampiran
Format Ukuran Kertas dan Sampul Pembuatan Makalah
a. Kertas : A4 80 gram
b. Sampul : Kertas Buffalo warna Kuning
c. Font : Arial
d. Size : 12
e. Spasi : 1,5
f. Margin
- Atas : 4 cm
- Kiri : 4 cm
- Bawah : 3 cm
- Kanan : 3 cm
g. Makalah ditulis minimal 10 halaman belum termasuk halaman Judul, Lampiran, dan Daftar Pustaka.
h. Nomor Halaman
- Letak di kanan atas
- Angka i,ii,iii,dst. Mulai dari kata pengantar sampai dengan sebelum Bab Pendahuluan.
- Angka 1,2,dst. Mulai dari Pendahuluan sampai dengan akhir.
Diatas adalah langkah langkah membuat makalah, semoga anda sudah mengerti akan tulisan diatas , jika kamu ingin melihat sebuah makalah yang sudah disusun dengan baik maka anda bisa lihat ke laman contoh makalah semoga tulisan ini bermanfaat kawan ! - Cara Membuat Makalah Yang Baik dan Benar, Contoh Makala
Mengapa demikian ? Karena penyusunan sebuah makalah yang baik dan benar seharusnya memang harus diteliti dilapangan secara langsung. Kesulitannya bukan hanya sampai disini, ketika hendak menyusunkan kedalam sebuah kertas kita juga harus memperhatikan kertas apa yang harus kita gunakan, ukuran font dan urutan / struktur penulisan makalah.
Buat kamu yang belum pernah membuat sebuah makalah sebelumnya ini memanglah menjadi hal yang pastinya membingungkan bagi anda, namun mau tidak mau anda harus belajar membuat makalah anda. Tadi kita sudah menyinggung sedikit pengertian makalah, bahwa makalah merupakan tulisan resmi tentang suatu pokok yg dimaksudkan untuk dibacakan di muka umum atau dalan suatu persidangan dan yang sering disusun untuk diterbitkan. Nah, tentunya sudah ada kaedah / aturan tertentu dalam membuat suatu maklah, dan kami akan sedikit share tentang cara membuat makalah kepada kamu.
Cara Membuat Makalah
1. Sebelum memulai membuat makalah maka anda wajib mempelajari dan menganalisa topik yang akan ditulis.
2. Menyusun pola pikir.
3. Mengumpulkan bahan-bahan materi.
4. Dalam menulis sebuah makalah kita dituntut untuk:
- Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
- Menyusun kalimat agar lebih mudah dipahami
- Singkat, padat, dan jelas dalam uraian
- Rangkaian uraian yang berkaitan
Struktur Penulisan Makalah
1. Lembar Judul atau Jilid
- Judul makalah
- Nama dan Nim
- Nama dan Tempat Perguruan Tinggi
- Tahun
2. Lembar Pengesahan
3. Kata Pengantar
4. Daftar Isi
5. Daftar Gambar
6. Daftar Tabel
7. Tubuh Makalah
a. Pendahuluan : Terbagi menjadi 3 Sub Bab
1. Latar belakang
2. Ruang lingkup
3. Maksud dan tujuan penulisan
b. Pembahasan
c. Penutup
- Kesimpulan
- Saran
d. Daftar Pustaka
e. Lampiran
Format Ukuran Kertas dan Sampul Pembuatan Makalah
a. Kertas : A4 80 gram
b. Sampul : Kertas Buffalo warna Kuning
c. Font : Arial
d. Size : 12
e. Spasi : 1,5
f. Margin
- Atas : 4 cm
- Kiri : 4 cm
- Bawah : 3 cm
- Kanan : 3 cm
g. Makalah ditulis minimal 10 halaman belum termasuk halaman Judul, Lampiran, dan Daftar Pustaka.
h. Nomor Halaman
- Letak di kanan atas
- Angka i,ii,iii,dst. Mulai dari kata pengantar sampai dengan sebelum Bab Pendahuluan.
- Angka 1,2,dst. Mulai dari Pendahuluan sampai dengan akhir.
Diatas adalah langkah langkah membuat makalah, semoga anda sudah mengerti akan tulisan diatas , jika kamu ingin melihat sebuah makalah yang sudah disusun dengan baik maka anda bisa lihat ke laman contoh makalah semoga tulisan ini bermanfaat kawan ! - Cara Membuat Makalah Yang Baik dan Benar, Contoh Makala
KEDUDUKAN KATA DAN KALIMAT
Pengertian KalimaT
Kalimat memiliki beberapa pengertian, diantaranya:
1.
Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan,
yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Dalam kalimat, sekurang-kurangnya
terdiri dari subjek dan predikat.
2. Kalimat adalah gabungan dari duah buah kata atau lebih yang menghasilkan suatu pengertian dan pola intonasi akhir.
3.
Cook, Elson dan Picket berpendapat bahwa kalimat adalah satuan bahasa
yang secara relatif dapat berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi akhir
dan terdiri dari klausa.
4.
Ramlan berpendapat bahwa kalimat adalah satuan gramatikal yang dibatasi
oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir naik atau turun.
5. Lado berpendapat bahwa kalimat adalah satuan terkecil dariekspresi lengkap.
Kalimat
dapat dibagi-bagi berdasarkan jenis dan fungsinya, retorikanya,
gramatikalnya. Contohnya seperti kalimat lengkap, kalimat tidak lengkap,
kalimat aktif, kalimat perintah, kalimat majemuk, dan lain sebagainya.
Kalimat
dalam ragam resmi, baik lisan maupun tertulis, harus memiliki subjek
(S) dan predikat (P). Kalau tidak memiliki unsir subjek dan unsur
predikat, pernyataan itu bukanlah kalimat. Dengan kata yang seperti itu
hanya dapat disebut sebagai frasa. Inilah yang membedakan kalimat dengan frasa.
Kalimat
adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan yang
mengungkapkan pikiran yang utuh. Dalam wujud lisan kalimat diucapkan
dengan suara naik turun, dan keras lembut, disela jeda, dan diakhiri
dengan intonasi akhir. Dalam wujud tulisan berhuruf latin kalimat
dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik(.), tanda
tanya (?) dan tanda seru (!).
Setiap
kalimat memiliki unsur penyusun kalimat. Gabungan dari unsur-unsur
kalimat akan membentuk kalimat yang mengandung arti. Unsur-unsur inti
kalimat antara lain SPOK :
- Subjek (S)
Adalah unsur yang melakukan suatu tindakan atau kerja dalam suatu kalimat.
- Predikat (P)
Adalah sebagai unsur kata kerja.
- Objek (O)
adalah unsur yang dikenai kerja oleh subjek.
- Keterangan (K)
Dapat berupa keterangan waktu atau tempat selama kejadian.
-Pelengkap
Adalah unsur yang melengkapi kalimat yang tak berobjek.
Contoh :
Gadis berkulit putih itu menyanyikan lagu didepan kelas dengan bagus.
S P O K Pel
Ayah membaca koran di teras belakang.
S P O K
Alat-alat Kalimat
Ada
empat pokok yang perlu mendapat perhatian dalam pembentukan kalimat.
Keempat hal tersebut dalam bahan kuliah ini disebut alat-alat kalimat.
Alat-alat tersebut yang dimaksud adalah sebagai berikut:
i) Pola urutan kata
Setiap
pemakai bahasa tidak boleh seenaknya saja menempatkan kata, melainkan
ia harus mengikuti tata urutan tertentu. Perubahan urutan kata dapat
merubah makna kalimat, bahkan dapat menghilangkan makana arti sama
sekali. Kalimat yang sekurang-kurangnya berdiri atas
dua unsur kata, harus diurut menurut pola urutan tertentu yang
dibenarkan oleh kaidah bahasa indonesia. Dalam bahasa Indonesia, kita
mengenal pola urutan diterangkan dan menerangkan (DM) dan kadang-kadang ditemukan pola susunan menerangkan diterangkan
(MD). Seperti contoh berikut. Tanda asterik atau tanda bintang (*)
didepan kalimat menandakan bahwa kalimat yang dimaksud tidak gramatikal.
1) Dia mengunjungi temannya dengan tergesa-gesa di tempat itu.
2) Di tempat itu dia mengunjungi temannya dengan tergesa-gesa.
3) Dengan tergesa-gesa, dia mengunjungi temannya di tempat itu.
4) Di tempat itu dengan tergesa-gesa dia mengunjungi temannya.
5) Dia mengunjungi di tempat itu dengan tergesa-gesa temannya.
6) Dia temannya mengunjungi di tempat itu dengan tergesa-gesa.
7) Dia di tempat itu mengunjungi dengan tergesa-gesa temannya.
8) Temannya dia dengan tergesa-gesa di tempat itu mengunjungi.
Kalimat
1), 2), 3), dan 4) masih gramatikal. Maknanya masih jelas karena
pengurutanya masih mengikuti kaidah atau pola urutan yang dibenarkan
oleh kaidah bahasa Indonesia. Predikat berupa kata kerja aktif transitif
harus selalu diikuti dengan obyek. Lain halnya dengan kalimat 5), 6),
7), dan 8) predikat aktif transitif diikuti dengan obyek dan keterangan.
Perubahan
struktur sebuah kalimat dapat dilakukahn dalam batas-batas tertentu
tanpa melanggar atau merusak satuan-satuan fungsionalnya. Satuan
fungsional (S), (P), maupun (K) harus tetap sekelompok. Perlu kita
ingat, bahwa struktur fungsional yang dibenarkan dalam bahasa Indonesia
hanyalah S/P/O/K, K/S/P/O, S/K/P/O, P/S, atau P/O/S. selain ini semua
pola lain belun dilazimkan atau tidak dibenarkan.
Perhatikan contoh berikut ini:
Dia menanam padi di sawah. (S/P/O/K).
Di sawah dia menanam padi. (K/S/P/O).
Dia di sawah menanam padi. (S/K/P/O).
Menanam dia. (P/O)
Menanam padi di sawah. (P/O/S/K)
ii) Bentuk Kata
Dalam
menyusun kalimat harus diperhatikan bentuk katayang terdapat dalam
Bahasa Indonesia. Bentuk kata dalam Bahasa Indonesia terdiri atas bentuk
dasar/ kata dasar atau kata turunan berupa kata berimbuhan, kata
majemuk, dan kata berulang. Perbedaan bentuk kata dalam kalimat dapat
mengubah makna struktural kalimat.
Perhatikan bentuk-bentuk berikut:
baca, membaca, dan dibaca dalam kalimat:
Saya membaca buku itu.
Saya baca buku itu.
Buku itu saya baca.
Buku itu dibacanya.
Berjalan dan berjalan-jalan dalam kalimat:
Ia berjalan menelusuri pantai.
Banyak orang berjalan-jalan menelusuri pantai.
Duduk dan duduk-duduk dalam kalimat:
Ia duduk seorang diri.
Duduk-duduk saja sejak tadi.
Bandingkan pula bentuk berikut:
Ali memiliki tangga itu.
Ali menaikkan tangga itu.
Ali tulis surat.(kalimat tidak baku)
Ali menulis surat.(kalimat
Jenis Kalimat Menurut Struktur Gramatikalnya
Jenis Kalimat Menurut Struktur Gramatikalnya
Menurut
strukturnya, kalimat dalam bahasa Indonesia dapat berupa kalimat
tunggal dan dapat pula berupa kalimat mejemuk. Kalimat majemuk dapat
bersifat setara (koordinatif, tidak setara (subordinatif), ataupun
campuran (koordinatif-subordinatif). Gagasan yang tunggal dinyatakan
dalam kalimat tunggal; gagasan yang bersegi-segi diungkapkan dengan
kalimat majemuk.
A. Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal terdiri atas satu subjek dan satu predikat.
Pada hakikatnya, kalau dilihat dari unsur-unsurnya, kalimat-kalimat
yang panjang-panjang dalam bahasa Indonesia dapat dikembalikan kepada
kalimat-kalimat dasar yang sederhana. Kalimat-kalimat tunggal yang
sederhana itu terdiri atas satu subjek dan satu predikat. Sehubungan
dengan itu, kalimat-kalimat yang panjang itu dapat pula ditelusuri
pola-pola pembentukannya. Pola-pola itulah yang dimaksud dengan pola
kalimat dasar.
Contoh :
|
Kalimat Tunggal
|
Susunan Pola Kalimat
|
|
Ayah merokok.
Adik minum susu.
Ibu menyimpan uang di dalam laci.
|
S-P
S-P-O
S-P-O-K
|
Kalimat tunggal dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:
1. Kalimat nominal adalah kalimat yang predikatnya berupa kata benda.
Contoh: Saya siswa kelas VI.
2. Kalimat verbal adalah kalimat yang predikatnya berupa kata kerja.
Contoh: Adik bernyanyi.
Setiap
kalimat tunggal di atas dapat diperluas dengan menambahkan kata-kata
pada unsur-unsurnya. Dengan penambahan unsur-unsur itu, unsur utama dari
kalimat masih dapat dikenali. Suatu kalimat tunggal dapat diperluas
menjadi dua puluh atau lebih. Perluasan kalimat tesebut terdiri atas:
1. Keterangan tempat, seperti di sini, dalam ruangan tertutup, lewat Bali, sekeliling kota.
2. Keterangan waktu, seperti: setiap hari, pada pukul 21.00, tahun depan, kemarin sore, minggu kedua bulan ini.
3.
Keterangan alat (dengan + kata benda), seperti: dengan linggis, dengan
undang-undang itu, dengan sendok, dengan wesel pos, dengan cek.
4. Keterangan modalitas, seperti: harus, barangkali, seyogyanya. sesungguhnya, sepatutnya.
5. Keterangan cara (dengan + kata sifat/kata kerja), seperti: dengan hati-hati, seenaknya saja, selekas mungkin.
6. Keterangan aspek, seperti akan, sedang, sudah, dan telah.
7. Keterangan tujuan, seperti: agar bahagia, untuk anaknya, supaya aman, bagi mereka.
8. Keterangan sebab, seperti: karena rajin, sebab berkuasa, lantaran panik.
9. Keterangan aposisi adalah keterangan yang sifatnya menggantikan, seperti: penerima Sepatu Emas, David Beckham.
10. Frasa yang, seperti: mahasiswa yang IP-nya 3 ke atas, pemimpin yang memperhatikan rakyat.
Contoh perluasan kalimat tunggal adalah:
1. Victoria akan bernyanyi di Las Vegas.
2. Masalahnya seribu satu yang belum terpecahkan.
3. Ika sangat rajin menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya.
B. Majemuk Majemuk Setara
Kalimat majemuk setara terjadi dari dua kalimat tunggal atau lebih. Kalimat majemuk setara dikelompokkan menjadi empat jenis, sebagai berikut.
1. Dua kalimat tunggal atau lebih dapat dihubungkan oleh kata dan atau serta jika kedua kalimat tunggal atau lebih itu sejalan, dan hasilnya disebut kalimat majemuk setara penjumlahan.
Contoh:
Kami membaca
Mereka menulis
Kami membaca dan mereka menulis.
Tanda koma dapat digunakan jika kalimat yang digabungkan itu lebih dari dua kalimat tunggal.
Contoh:
Direktur tenang
Karyawan duduk teratur.
Para nasabah antre.
Direktur tenang, karyawan duduk teratur, dan para nasabah antre.
2. Kedua kalimat tunggal yang berbentuk kalimat setara itu dapat dihubungkan oleh kata tetapi jika kalimat itu menunjukkan pertentangan, dan hasilnya disebut kalimat majemuk setara pertentangan.
Contoh:
Amerika dan Jepang tergolong negara maju.
Indonesia dan Brunei Darussalam tergolong negara berkembang.
Amerika dan Jepang tergolong negara maju, tetapi Indonesia dan Brunei Darussalam tergolong negara berkembang.
Kata-kata
penghubung lain yang dapat digunakan dalam menghubungkan dua kalimat
tunggal dalam kalimat majemuk setara pertentangan ialah kata sedangkan dan melainkan seperti kalimat berikut.
Puspiptek terletak di Serpong, sedangkan Industro Pesawat Terbang Nusantara terletak di Bandung.
Ia bukan peneliti, melainkan pedagang.
3. Dua kalimat tunggal atau lebih dapat dihubungkan oleh kata lalu dan kemudian jika kejadian yang dikemukakannya berurutan.
Contoh:
Mula-mula disebutkan nama-nama juara MTQ tingkat remaja, kemudian disebutkan nama-nama juara MTQ tingkat dewasa.
Upacara serah terima pengurus koperasi sudah selesai, lalu Pak Ustaz membacakan doa selamat.
4. Dapat pula dua kalimat tunggal atau lebih dihubungkan oleh kata atau jika kalimat itu menunjukkan pemilihan, dan hasilnya disebut kalimat majemuk setara pemilihan.
Contoh:
Para pemilik televisi membayar iuran televisinya di kantor pos yang terdekat, atau para petugas menagihnya ke rumah pemilik televisi langsung.
C. Kalimat Majemuk tidak Setara (bertingkat)
Kalimat majemuk tidak setara terdiri atas satu suku kalimat yang bebas dan satu suku kalimat atau lebih yang tidak bebas. Jalinan kalimat ini menggambarkan taraf kepentingan yang berbeda-beda di antara unsur gagasan yang majemuk. Inti gagasan dituangkan ke dalam induk kalimat,
sedangkan pertaliannya dari sudut pandangan waktu, sebab, akibat,
tujuan, syarat, dan sebagainya dengan aspek gagasan yang lain
diungkapkan dalam anak kalimat.
Ada beberapa penanda hubungan / konjungsi yang dipergunakan oleh kalimat majemuk bertingkat, yaitu:
1. Waktu : ketika, sejak
2. Sebab: karena, oleh karenaitu, sebab, oleh sebab itu
3. Akibat: hingga, sehingga, maka
4. Syarat: jika, asalkan, apabila
5. Perlawanan: meskipun, walaupun
6. Pengandaian: andaikata, seandainya
7. Tujuan: agar, supaya, untukbiar
8. Perbandingan: seperti, laksana, ibarat, seolah‐olah
9. Pembatasan: kecuali, selain
10. Alat: dengan + kata benda: dengan tongkat
11. Kesertaan: dengan + orang
Contoh:
- Walaupun komputer itu dilengkapi dengan alat-alat modern, para hacker masih dapat mengacaukan data-data komputer itu.
Induk kalimat: Para hacker masih dapat mengacaukan data-data komputer itu.
Anak kalimat: Walaupun komputer itu dilengkapi dengan alat-alat modern.
Contoh:
1. a. Komputer itu dilengkapi dengan alat-alat modern. (tunggal)
b. Mereka masih dapat mengacaukan data-data komputer. (tunggal)
c.Walaupun komputer itu dilengkapi dengan alat-alat modern, mereka masih dapat mengacaukan data-data komputer itu.
2. a. Para pemain sudah lelah
b. Para pemain boleh beristirahat.
c. Karena para pemain sudah lelah, para pemain boleh beristirahat.
d. Karena sudah lelah, para pemain boleh beristirahat.
Sudah dikatakan di atas bahwa kalimat majemuk tak setara terbagi dalam bentuk anak kalimat dan induk kalimat. Induk kalimat ialah inti gagasan, sedangkan anak kalimat ialah pertalian gagasan dengan hal-hal lain.
Mari kita perhatikan kalimat di bawah ini.
Apabila engkau ingin melihat bak mandi panas, saya akan membawamu ke hotel-hotel besar.
Anak kalimat:
Apabila engkau ingin melihat bak mandi panas.
Induk kalimat:
Saya akan membawamu ke hotel-hotel besar.
Penanda anak kalimat ialah kata walaupun,
meskipun, sungguhpun, karena, apabila, jika, kalau, sebab, agar,
supaya, ketika, sehingga, setelah, sesudah, sebelum, kendatipun, bahwa, dan sebagainya.
D. Kalimat Majemuk Campuran
Kalimat jenis ini terdiri atas kalimat majemuk tak setara (bertingkat) dan kalimat majemuk setara, atau terdiri atas kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk tak setara (bertingkat).
Misalnya:
1. Karena hari sudah malam, kami berhenti dan langsung pulang.
2. Kami pulang, tetapi mereka masih bekerja karena tugasnya belum selesai.
Langganan:
Postingan (Atom)
